Nusantara Showbiz – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan. COO Kubasi Group, Perry Bakhtiar, menyampaikan pandangannya mengenai isu Palestina dan potensi dampak gangguan di Selat Hormuz terhadap industri energi global.
“Pertama-tama, saya ingin menegaskan kembali posisi personal saya, yang juga sejalan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi di Qatar, bahwa dukungan kami terhadap perjuangan rakyat Palestina adalah mutlak dan tidak bisa ditawar,” kata Perry Bakhtiar saat dihubungi awak media, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, dukungan terhadap Palestina tidak semata berkaitan dengan politik kawasan, melainkan menyangkut nilai kemanusiaan dan penghormatan terhadap hukum internasional.
Ia menilai masyarakat internasional tidak boleh mengabaikan penderitaan warga sipil Palestina. Perry juga menegaskan hak hidup aman, hak menentukan nasib sendiri, dan hak atas kemerdekaan merupakan prinsip yang diakui secara global.

“Bagi kami di Kubaisi Group, ini bukan sekadar urusan politik regional, melainkan sebuah tanggung jawab moral yang berakar pada prinsip kemanusiaan universal dan penghormatan terhadap hukum internasional,” ujarnya.
Selain menyoroti isu Palestina, Perry juga membahas pentingnya stabilitas Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia. Kawasan tersebut memiliki peran vital karena menjadi lintasan sebagian besar perdagangan minyak dan gas alam cair global.
“Beralih ke pertanyaan kedua mengenai Selat Hormuz. Sebagai Chief Operating Officer dari Kubaisi Group yang mengawasi operasional kami di Shamal, Qatar, kami berada di posisi geografis yang sangat dekat dengan jalur logistik utama dunia. Selat Hormuz adalah arteri vital bagi industri minyak dan gas global,” katanya.
Menurut Perry, gangguan sekecil apa pun di jalur pelayaran tersebut dapat memicu efek berantai bagi perekonomian dunia. Mulai dari lonjakan harga energi, terganggunya rantai pasok global, hingga inflasi yang berdampak pada banyak negara.
Ia menjelaskan ancaman penutupan atau gangguan di Selat Hormuz berpotensi memunculkan kepanikan pasar dalam waktu singkat. Bahkan harga minyak mentah Brent disebut dapat menembus level lebih dari 100 dolar AS per barel akibat meningkatnya premi risiko geopolitik.
“Posisi kami sangat jelas: Kami mendesak semua kekuatan regional dan internasional untuk menahan diri dari segala tindakan provokatif yang dapat mengancam keamanan maritim di Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini harus tetap terbuka, aman, dan bebas untuk navigasi perdagangan internasional berdasarkan hukum laut internasional (UNCLOS),” tegasnya.
Perry menambahkan konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah memiliki keterkaitan erat dengan stabilitas energi global. Karena itu, pihaknya berkomitmen menjaga keandalan pasokan energi dari Shamal, Qatar, sembari terus menyuarakan pentingnya keadilan kemanusiaan dan penegakan hukum internasional.
“Konflik geopolitik yang tidak terselesaikan di satu titik di Timur Tengah selalu berpotensi menciptakan ketegangan di titik strategis lainnya, termasuk di wilayah perairan Teluk. Ketika terjadi ketidakstabilan politik, sektor industri energi adalah salah satu yang paling pertama merasakan dampaknya,” pungkas Perry.
