Film Istimewa Resmi Diluncurkan, Abdullah Mansuri Buka Ruang Kreativitas bagi Anak-Anak Istimewa

Nusantara Showbiz — Dunia perfilman Indonesia kembali menghadirkan pesan tentang inklusivitas melalui peluncuran film Istimewa di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Film ini menjadi wadah bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas mereka di dunia seni peran.

Produser film Istimewa, Abdullah Mansuri, menegaskan bahwa dirinya ingin membuka ruang yang lebih luas bagi anak-anak tersebut untuk membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan aktor profesional.

Abdullah Mansuri bahkan memilih menggunakan istilah “istimewa” dibandingkan penyebutan disabilitas. Menurutnya, anak-anak yang terlibat dalam film tersebut memiliki potensi besar dan mampu menunjukkan kemampuan mereka di depan kamera.

“Kalau ditanya bangga, sejak saya umumkan, saya dengan lantang menyatakan mereka bukan disabilitas tapi istimewa. Anak-anak saya yang jumlahnya ribuan, sangat mampu menunjukkan kemampuan mereka. Saya sangat bangga,” tegas Abdullah Mansuri.

Abdullah Mansuri juga memiliki visi untuk memperluas ruang kreativitas bagi anak-anak istimewa apabila film Istimewa mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Ia bahkan berjanji akan membangun Rumah Istimewa di berbagai daerah di Indonesia apabila film tersebut mampu mencapai target satu juta penonton.

“Kalau Tuhan mengizinkan ini menembus satu juta, saya ingin bikin Rumah Istimewa di seluruh daerah di Indonesia. Harapannya semua orang kalau Tuhan memanggil saya pulang, akan muncul ayah-ayah yang baru,” ujar Abdullah Mansuri.

Menurutnya, keberadaan Rumah Istimewa di berbagai daerah diharapkan dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk mendapatkan kesempatan berkembang, berkarya, sekaligus memperoleh dukungan.

Dukungan terhadap pesan inklusivitas yang dibawa film Istimewa juga datang dari aktor senior Mathias Muchus.

Ia menilai setiap manusia memiliki hak yang sama untuk berkarya dan mengekspresikan kreativitas, termasuk mendapatkan kesempatan untuk menjadi aktor.

“Jadi mereka punya hak yang sama, makanya ada film ini. Kita masih kasih kesempatan untuk hak mereka berkarya. Jadi ruang kreativitas bukan cuma buat Mathias Muchus atau Agus Kuncoro,” jelas Mathias Muchus.

Kehadiran para pemain dengan latar belakang berbeda menjadi salah satu kekuatan film Istimewa dalam menyampaikan pesan bahwa dunia seni seharusnya dapat diakses oleh siapa saja.

Salah satu pemain, Bambang Ceper, turut membagikan kisah personalnya selama mengenal Abdullah Mansuri dan anak-anak istimewa.

Bambang mengaku sebelumnya kerap merasa rendah diri akibat perlakuan kurang menyenangkan dari lingkungan sekitarnya. Pertemuannya dengan Abdullah Mansuri menjadi salah satu titik balik dalam membangun kepercayaan dirinya.

“Dulu aku tidak pede sama sekali. Aku punya ayah kandung tapi tidak dekat, apalagi orang selalu ngeledek. Setelah kenal Ayah Mansuri dan anak-anak istimewa, setelah itu mentalku terbentuk,” ungkap Bambang.

Ia masih mengingat salah satu momen yang membuat dirinya merasa mendapatkan perlindungan dan dukungan. Saat sedang merasa takut dan menutup diri di kamar, Abdullah Mansuri datang dan memeluknya.

“Setelah malu di kamar pakai selimut, tidak kenal ayah, terus ayah masuk dan peluk. Dia bilang kalau ada apa-apa bilang ke Ayah, kamu tidak usah takut,” kenangnya.

Kisah perjuangan juga datang dari Niatus Sholihah. Ia mengaku harus menyelesaikan skripsi tanpa dukungan dari keluarga kandung.

Dalam perjalanan tersebut, Niatus menemukan sosok orang tua pengganti melalui Abdullah Mansuri yang memberikan dukungan dan penerimaan.

“Alhamdulillah saya bisa berjuang dan menyelesaikan kuliah saya karena ayah selalu menguatkan saya. Tentunya kembali lagi ayah dengan ayah Mansuri saya merasa sangat diterima dan tidak dibedakan,” kata Niatus Sholihah.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan personal para pemain yang kemudian turut memberikan warna pada film Istimewa.

Sementara itu, Yani Melwani yang telah mendampingi anak-anak tersebut selama lima tahun mengatakan proses membangun kedekatan selama syuting tidak menjadi kendala berarti.

Menurut Yani, hubungan kakak dan adik yang ditampilkan dalam film Istimewa pada dasarnya merupakan gambaran dari kehidupan mereka sehari-hari.

“Sebenarnya aku kenal mereka sudah 5 tahun. Kalau dilihat Kinan jadi kakak mereka dalam kehidupan pribadi juga seperti itu. Kehidupan pribadi kita memang sama seperti film,” pungkas Yani Melwani.

Melalui film Istimewa, para pembuatnya tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga berupaya membuka ruang yang lebih luas bagi anak-anak istimewa untuk berkarya, menunjukkan kemampuan, serta mendapatkan kesempatan yang setara di industri kreatif Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *