Putra Putri Tenun Songket Indonesia 2024, Merupakan Upaya Pelestarian Budaya Wastra Tenun & Songket Tradisional Warisan Nusantara Kepada Generasi Muda Gen Z

Nusantara Showbiz – Yayasan Cinta Budaya Kain Nusantara (sukses menggelar Grand Final Ajang Putra Putri Tenun , Songket Indonesia 2024.

Bertempat di Grand Ball Room Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu 7 September 2024, Ajang ini melahirkan banyak putra-putri perwakilan dari seluruh Propinsi Indonesia yang berbakat dan memahami budaya nya.

Harapannya, kegiatan ini juga dapat mengedukasi generasi muda akan kekayaan budaya tenun & songket. Sekaligus meningkatkan industri tradisional, serta meningkat kan kehidupan ekonomi bagi para penenunnya yang ada di seluruh kepulauan indonesa dari sabang hingga merauke..

Ajang Putra Putri Tenun , Songket Indonesia 2024 adalah event yang kelima. Kegiatan tahunan ini diharapkan tidak berhenti pada budaya wastra saja, namun akan berkembang pada budaya – budaya secara lebih luas lain nya.

Budaya wastra ialah kain tradisional yang sarat akan makna & filosofi budaya Nusantara. Masing-masingnya memiliki ciri khas yang dapat kita bedakan berdasarkan simbol motif , warna, ukuran sampai material , bahan baku , smp proses pembuatan yang masih di budayakan secara hand made tradisional yang turun temurun para penenun masih membudayakan , melestarikan nya.

“Kita harapkan ke depannya tenun dan songket ini berkembang pemanfaatannya. Misalnya pada UMKM yang membuatnya menjadi fashion,” kata Tjokorda Agung Kusumayudha seusai konferensi pers Grand Final Ajang Putra Putri Tenun Songket Indonesia 2024, Sabtu (7/9/2024).

Lebih lanjut ia mengatakan, selama ini di daerah pengembangan tenun dan songket terwakili oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Dengan pembinaan dari istri gubernur dan bupati atau wali kota.

Tetapi dia berharap, pengembangannya bukan cuma sekadar pameran terus dibeli oleh aparat pemda. Lalu setelah itu tidak berujung serta berkelanjutan lagi.

“Mereka harus mampu mendatangkan investor, pembeli, sehingga terus tercipta daya beli nya yang tdk terbatas suatu waktu sehingga terus berkembang serta berkelanjutan ,” harapnya.

Ia juga berharap ke depannya, Grand Final Ajang Putra Putri Tenun Songket Indonesia 2024 dapat menciptakan wawasan kebangsaan , serta sejarah , budaya kedaerahan.

“Jadi cara pandang dan pemahamannya (generasi muda) terhadap budaya lokal lebih baik lebih baik. Lebih paham di tengah serbuan budaya asing yang masuk ke Indoensia,” katanya lagi.

Sementara itu, ….. Prof . Dr. Muhammad Hatta selaku Pembina KADIIFA mengutarakan, grand final ini mempunyai sejumlah target sasaran. Pertama, membidik keterlibatan generasi muda. Sebab ketika bicara generasi muda, mayoritas saat ini lebih tertarik dengan budaya luar.

“Mengenalkan tenun dan songket itu tidak mudah. Ajang grand final ini atau Ajang seperti ini yang diupayakan oleh Prof Anna Mariana dan komunitas nya bertujuan untuk mendorong kecintaan nya, dan bangga menggunakan wastra tenun , songket sebaga busana ciri khas bangsa , produk kearifan lokal nya itu,” tuturnya.

Sasaran kedua adalah peran pemerintah harus semakin terlihat. Sebab acara ini merupakan bagian dari peningkatan kualitas, membantu pembinaan serta edukasi bagi daerah- daerah , kepada mereka para pengrajin – pengrajin (penenun) juga butuh bantuan dari sisi pemasarannya. Tentu juga harus dibantu juga dalam hal permodalannya, ketersediaan bahan baku nya. Dalam konteks ini kinerjanya memang kompleks,” tambahnya.

Menurut Prof . Dr. Muhammad Hatta, kegiatan ini merupakan bagian kecil saja dari usaha untuk mendorong Pelestarian, pengembangan serta pemajuan bagi wastra tradisional tenun dan songket indonesia , di harapkan kawan- kawan wartawan media- media juga ikut membantu promosi dan gaungkan melalui jejaring media sosial nya.

“Target kita bukan hanya melestarikan saja, namun juga memberikan prospek kehidupan penenun-penenun kita ini. Di mana pemasaran ke luar daerah, terutama pemasaran di luar negeri sangat diperlukan , mengingat orang asing juga menyukai produk tradisional hand hand made yang etnik , unik dari tenun dan songket indonesia , produk nya yang sangat tradisional mempunyai keistimewaan tersendiri , sehingga tidak mudah di tiru oleh kebanyakan negara – negara luar ,” kata Prof .Dr. Hatta

Dia juga mengingatkan serta waspada adanya ancaman akuisisi secara ilegal dari negara lain terhadap budaya tenun dan songket kita ciri khas budaya kita indonesia.

“Kan sekarang banyak budaya kita diplagiat, diambil negara lain. Nah kalau ini tidak ada upaya keras untuk menjadikannya sebagai ciri khas Indonesia, serta tidak mendapat perlindungan hukum ( Hak Cipta ) dari Pemerintah Indonesia, tidak mendapat melindungi nya secara legal dan resmi , lama-lama bisa hilang,” katanya khawatir.

Persoalan ini jelas nya ,” bukan hanya kewajiban penenun tenun dan songket di daerah saja, tapi ini merupakan tugas pemerintah. Baik kementerian terkait seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif maupun kementerian lain lain nya bisa memberikan bantuan.

“Baik untuk edukasi pendidikan, memperkaya , mengenal kan bagi material yang berbasis tenun dan songket, para desainer yang kekinian. Itu harus kita dorong dan hidupkan terus. Harus ada upaya , kesadaran serta energi yang lebih besar mulai dari hulu hingga hilir nya,” pintanya.

Pada kesempatan yang sama, Prof Anna mariana mengungkapkan, di bawah naungan Yayasan Cinta Budaya Kain Nusantara & Yayasan Putera Puteri Tenun , Songket Indonesia , yang ada di bawah naungan nya di setiap daerah , yang begitu banyak jumlah nya hingga sampai puluhan juta penenun yang masih aktif .

“Sebelum COVID-19 jumlah yang dibina sebanyak kurang 42 an juta an orang kurang lebih nya, tapi jumlahnya menurun drastis saat pendemi COVID,” sebut Anna.

“Ini harus kita dorong lagi. Kami bina selama kurang lebih 37 tahun, kini kondisinya drop dan hancur saat pandemi COVID , persoalan nya yang utama , karena tak ada nya daya beli. Karena itu perlu nya diadakan pameran- pameran dan berharap ada dukungan pemerintah upaya penetapan ,” Hari Tenun Nasional ,”serta penetapan penggunaan wajib berbudana tenun & songket bagi setiap minggu 1/ 2 x setiap minggu bagi seluruh lapisan masyarakat indonesia , yang kami dorong kepada Presiden dan Pemerintah Indonesia, karena sangat urgent dan sangat penting bagi peningkatan ekonomi para perajin- perajin di daerah – daerah, serta upaya kita mendorong peningkatan produk nya , agar bisa meningkat , berkembang lebih maju , mendukung tercipta nya perbaikan daya beli baik di tingkat nasional maupun luar negeri seperti kondisi sebelum COVID,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *